Menuju Suoh Melalui Getek ( Rakit Bambu )
Jakarta sedang menggeliat dengan mencari alternatif bagaimana mengurai kemacetan dan banjir. Salah satu proyek besar yang sedang dalam tahap pengerjaan adalah Monorail. Pembangunan Monorail di Jakarta membutuhkan dana sekitar Rp 7 triliun. Dana tersebut digunakan untuk
pengembangan rute monorel yaitu green line (jalur hijau) dan blue line
(jalur biru). Dana yang cukup fantastic dan wow ... bagi warga masyarakat yang berada jauh dari proyek Monorail. Betapa tidak, seandainya perhatian yang sama juga diberikan pemerintah untuk daerah - daerah yang masih jauh dari infrastruktur yang memadai, tentu dapat dibayangkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat secara lebih luas. Namun pengandaian itu masih sebatas mimpi dan harapan, masih jauh dari realita. Dan kehidupan harus terus berjalan, maka masyarakat daerah pinggiranpun terus kreatif ,bagaimana mengusahakan hidup untuk terus bertumbuh dan berkembang. Dan salah satu usaha kreatif masyarakat daerah pinggiran, khususnya di Suoh - Lampung Barat adalah dengan membuat sarana transportasi Getek (rakit). Transportasi air yg menyerupai perahu, dibuat dari bambu yg
dijejerkan berbentuk persegi panjang.
Daerah Suoh - Lampung Barat terletak di dalam lingkaran sungai Semangka. Sungai Semangka menampung luapan air dari pegunungan bukit barisan yang membentang melingkari Liwa dan sekitarnya, lalu air terus mengalir menuju Kota Agung Tanggamus , hingga sampai ke Samudera Hindia. dapat dibayangkan jika musim hujan, maka sungai semangka akan meluap dan mengenangi pemukiman dan persawahan yang tidak jauh dari sungai semangka. Bila sungai sudah meluap/banjir dapat dipastikan masyarakat di Suoh tidak dapat keluar dari Suoh karena transportasi Getek ( rakit bambu) tidak dapat berfungsi. Jalan alternatif untuk ke luar dari Suoh harus melalui Letusan Suoh, Banding Agung ke arah Wonosobo - Tanggamus atau melintasi bukit dan pegunungan kearah Sekincau - Lampung Barat. Namun jika musim penghujan jalan menuju Sekincau sangat sulit sebab licin dan lengket. Upaya penduduk setempat bila mengendarai kendaraan roda dua atau empat jenis jeep dengan memasang rante yang dililitkan di lingkaran ban kendaraan, supaya tidak licin dan dapat bergerak di tanah yang lengket dan berlumpur.
Getek sebagai sarana transportasi di Suoh menjadi salah satu sarana penting yang menghubungkan antara Pekon di Kecamatan Bandar Negeri Suoh dan Kecamatan Suoh dengan jalan menuju Liwa sebagai pusat dari kabupaten di Lampung Barat. Kendaraan jenis roda empat - jeep yang memuat beras dan keperluan lainnya dapat melintasi sungai semangka jika debit air berkurang. Bila debit air meluap, pengangkutan beras dan barang-banrang lainnya melalui jalan letusan, walaupun jika hujan sangat sulit dan banyak kubangan yang dalam. Salah seorang pemilik getek, Usman,
mengatakan dirinya mampu mendulang uang Rp50 ribu-Rp70 ribu perhari
dalam sebagai upah menarik getek. Pasalnya, setiap hari kendaraan roda
dua yang menyeberang menumpang getek miliknya rata-rata 30 unit
kendaraan dan dikenai ongkos Rp2 ribu/unit. Ongkos yang terbilang murah, dan sangat terjangkau bagi masyarakat daerah pinggiran. Namun ongkos tersebut bila dibandingkan dengan tenaga dan waktu yang disediakan pemilik jasa getek, belum sebanding. Keiklasan dan ketulusan dalam semangat jiwa yang berbagi serta menolong itulah yang membuat pemilik jasa getek setia mengantar pulang - pergi siapapun yang menggunakan jasa getek. Jiwa yang mulia di tengah kesulitan masyarakat untuk dapat bisa keluar dan masuk Suoh dalam mengurus segala keperluan baik antar Pekon, Kecamatan dan kabupaten bahkan Propinsi.
Masih kata pak Usman, dengan menjadi penarik getek dirinya merasa cukup
memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Akan tetapi terkadang
aktivitas tersebut terhenti ketika sungai tersebut banjir dan memaksa
dirinya menunggu hingga debit air mengecil. Sebab ketika banjir datang
penarikan getek terlalu berisiko, bahkan terkadang getek yang ditambat
di tepi sungai pun terbawa arus sehingga Usman harus membuat getek
kembali. “Bukan sekali dua getek itu terbawa hanyut.”Pertanyaannya, haruskah penyeberangan tersebut menggunakan getek apakah
tidak akan lebih baik jika pemerintah memikirkan pembuatan jembatan pada
penyeberangan tersebut sehingga warga akan lebih nyaman ketika
meyeberang.( dari berbagai sumber - RD. Agust. Dharyanto).
Masih kata pak Usman, dengan menjadi penarik getek dirinya merasa cukup
memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Akan tetapi terkadang
aktivitas tersebut terhenti ketika sungai tersebut banjir dan memaksa
dirinya menunggu hingga debit air mengecil. Sebab ketika banjir datang
penarikan getek terlalu berisiko, bahkan terkadang getek yang ditambat
di tepi sungai pun terbawa arus sehingga Usman harus membuat getek
kembali. “Bukan sekali dua getek itu terbawa hanyut.”Pertanyaannya, haruskah penyeberangan tersebut menggunakan getek apakah
tidak akan lebih baik jika pemerintah memikirkan pembuatan jembatan pada
penyeberangan tersebut sehingga warga akan lebih nyaman ketika
meyeberang.( dari berbagai sumber - RD. Agust. Dharyanto). 
Tidak ada komentar:
Posting Komentar