Selasa, 28 Mei 2013

Mengenal OMK berbakat ( part. 1 ).




Della br. Sihombing.

Dara  kelahiran Liwa Lampung Barat,  23 Agustus 1995 adalah anak namor 5 dari 5 bersaudara. Della  Cyntia br Sihombing demikian nama lengkap putri pasangan Bpk. Sihombing dan Ibu br. Simamora, Della demikian biasa di panggil, tahun  2013   telah lulus dari  SMA Negeri I Liwa  Lampung Barat. Saat di temui oleh redaksi blog paroki St. Theodorus, Della bertutur ingin mengapai cita citanya menjadi seorang dokter. Ketika ditanya mengapa ingin menjadi dokter, ia bertutur prihatin dengan kesehatan masyarakat yang masih jauh dari pelayanan tenaga medis dan ia ingin berbagi dalam ikut serta membangun masyarakat yang sehat serta membantu orang orang yang membutuhkan bantuan kesehatan. Della selain dikenal cerdas dan pandai bergaul di sekolahnya, adalah juga seorang anggota OMK yang rajin dalam kegiatan dan pertemuan OMK. Dara manis ini juga memiliki suara yang sangat merdu, maka tidak heran dalam  kompetisi tingkat sekolah di kabupaten dan propinsi Della beberapa kali berhasil keluar sebagai juara. Misalnya dalam Festival Lomba Seni Siswa Nasional tingkat kabupaten Della dua kali meraih juara pertama.  Dan pada tingkat propinsi Lampung berhasil meraih  juara ke-tiga. Suara indah nan merdu tidak hanya ia berikan untuk menghibur dalam lagu lagu propan, namun ia juga persembahkan dalam alunan nada rohani dan mazmur pada kesempatan perayaan Ekaristi maupun Ibadah Sabda. Untuk mengasah kemampuan olah vocal Della membagi waktu dengan mengikuti kursus bernyanyi. Dan pada setiap even even khusus baik di Gereja maupun di sekolah, Della selalu memberikan waktu untuk tampil dalam performa yang memukau. Pada akhir perbincangan dengan redaksi blog paroki St. Theodorus, Della berpesan untuk generasi muda, khususnya OMK agar selalu semangat, dan teruslah bermimpi dan berjuang untuk mewujudkan mimpi dalam realitas. Tidak ada yang mustahil bersama dengan Tuhan, sebab bersama-Nya pasti akan ditopang dan dimampukan-Nya, demikian ujar Della. Selamat Della, semoga segala talentamu makin berkembang dan kelak cita citamu juga tercapai. Menjadi dokter  yang tidak hanya mampu menolong orang yang membutuhkan, namun dengan suara merdumu  dunia akan makin terhibur serta Tuhan makin dimuliakan. ( RD. Agust Dharyanto).

Senin, 27 Mei 2013

Menuju Stasi Suoh.


Senen setelah minggu ke-3, aku selalu mempersiapkan diri untuk menuju stasi Suoh. Sebelum berangkat  aku harus mempersiapkan mantel, dan keperluan pakaian secukupnya. Hal tersebut selain jarak tempuh sekitar 3-4 jam perjalanan dengan sepeda motor, jalan berliku naik turun gunung kawasan Taman Nasional Bukit Barisan, juga untuk mengantisipasi kala hujan di tengah perjalanan. Bisa dibayangkan  bila dalam perjalanan terkendala hujan, jalan menjadi becek berlumpur, tanah melekat pada ban kendaraan sehingga menyulitkan roda untuk berputar atau jalan di tempat karena licin.   Bisa dipastikan pakaian akan penuh lumpur dan tidak nyaman bila pakai. Dan bila hujan cukup deras, bisa dipastikan sungai semangka akan banjir maka tidak bisa langsung menyeberang dengan getek ( rakit bambu), harus mnunggu sampai arus sungai surut. Jika nekat bisa dipastikan dapat hanyut terbawa arus sungai, tentu akan lebih membahayakan keselamatan jiwa. Menunggu arus surut, bisa 2-4 jam, perlu  kesabaran khusus dan hati yang seluas samudera.   Beda halnya jika musim kemarau, walau jalan terjal dan berliku, penuh batu onderlag dan sebagian tanah merah serta pasir dijamin perjalanan akan lebih lancar dan cepat sampai di Suoh.

Perjalanan menuju Suoh akan sangat mengasikan jika  kita menikmati dengan batin. Kendati jarak yang cukup jauh dan sunyi senyap, namun hati pasti akan penuh dengan nyanyian sukacita, sebab di setiap mata memandang tak akan berhenti hati berdecak kagum. Bukan hanya soal panorama yang indah dengan bentangan lembah dan ngarai pegunungan  Taman Nasional Bukit Barisan, namun karena begitu agung dan luar biasanya Tuhan dalam mencipta alam. Suoh memang negeri tersembunyi , menyimpan sejuta  misteri dan kekaguman. Suoh terletak di Lampung barat  terbagi menjadi dua kecamatan, Kecamatan Bandar Negeri Suoh dan Kecamatan Suoh. Kecamatan Bandar Negeri Suoh  berpusat  di Sri Mulyo dengan luas wilayah ± 170.85 km², jumlah penduduk 25.423 jiwa yang tersebar di 10 desa/pekon yaitu : Suoh, Sri Mulyo, Bandar Agung, Gunung Ratu, Bumi Hantatai, Ringin Jaya, Tanjung Sari, Negeri Jaya, Tembelang dan Tri Mekar Jaya.  Sedangkan Kecamatan Suoh  pusat Pemerintahan Kecamatan  berada di Sumber Agung dengan luas wilayah ± 170.77 Km2 atau 3.45 % dengan jumlah penduduk 17.629 jiwa dengan kepadatan 103,23 jiwa/km2, jarak ke Ibukota Kabupaten ± 45 km. Kecamatan Suoh terdiri dari 7 desa/pekon yaitu: Sumber Agung, Tugu Ratu, Suka Marga, Banding Agung, Roworejo, Sidorejo dan Ringin Sari (sumber : PMD Lampung Barat). 

Suoh memiliki 3 stasi, yang terletak di Pekon Sidorejo dan Pekon Sumber Agung masuk di kecamatan Suoh, serta di Tri Mekar Jaya yang berada di kecamatan Bandar Negeri Suoh. Jumlah umat di Pekon Sidorejo 3 KK, Sumber Agung 4 KK dan di Tri Mekar Jaya 14 KK. Jumlah total umat khatolik di Suoh 21 KK. Jumlah yang tidak sebanding dengan jarak tempuh perjalanan, namun garam dan terang tidak menunjuk soal jumlah, melainkan soal kualitas dan bagaimana mampu menjadi larut dalam kesatuan yang mampu membangun peradaban hidup yang dilandasi oleh cinta kasih. Hal tersebut dapat kita rasakan dalam peran serta umat di tengah masyarakat, hadir dalam warna dan kebajikan yang sampai sekarang menjadi cerita indah, bagaimana Gereja hadir dan menjawab kerinduan serta kebutuhan masyarakat luas. Karya Roh memang tidak berkesudahan, selalu baru dan indah pada waktunya. Bersama dan merasakan kehidupan umat di stasi Suoh dalam setiap kunjungan, serasa mencapai oase baru untuk kembali membangun semangat. Betapa tidak, kehidupan yang sulit dan terisolir telah umat buktikan, bukan penghalang untuk selalu setia pada iman. Semangat dan sukacita umat juga selalu terpancar sebagai buah atas penghayatan hidup dalam kesatuan dengan Jesus Sang Juruselamat. Lelah yang terbayar sukacita di setiap kunjungan, dan semangat yang kembali membara di setiap perjumpaan. ( RD. Agust. Dharyanto).  


Minggu, 19 Mei 2013

 Menuju Suoh Melalui Getek ( Rakit Bambu )


Jakarta sedang menggeliat dengan mencari alternatif bagaimana mengurai kemacetan dan banjir. Salah satu proyek besar yang sedang dalam tahap pengerjaan adalah Monorail. Pembangunan Monorail di Jakarta membutuhkan dana sekitar Rp 7 triliun. Dana tersebut digunakan untuk pengembangan rute monorel yaitu green line (jalur hijau) dan blue line (jalur biru). Dana yang cukup fantastic dan wow ... bagi warga masyarakat yang berada jauh dari proyek Monorail. Betapa tidak, seandainya perhatian yang sama juga diberikan pemerintah untuk daerah - daerah yang masih jauh dari infrastruktur yang memadai,  tentu dapat  dibayangkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat secara lebih luas. Namun pengandaian itu masih sebatas mimpi dan harapan, masih jauh dari realita. Dan kehidupan harus terus berjalan, maka masyarakat  daerah pinggiranpun terus kreatif ,bagaimana mengusahakan hidup untuk terus bertumbuh dan berkembang. Dan salah satu usaha kreatif masyarakat daerah pinggiran, khususnya di Suoh - Lampung Barat adalah dengan membuat sarana transportasi Getek (rakit).  Transportasi air yg menyerupai perahu, dibuat dari bambu yg dijejerkan berbentuk persegi panjang. 

 Daerah Suoh - Lampung Barat terletak di dalam  lingkaran sungai Semangka. Sungai Semangka menampung luapan air dari pegunungan bukit barisan yang membentang melingkari Liwa dan sekitarnya, lalu air terus mengalir menuju Kota Agung Tanggamus , hingga sampai ke Samudera Hindia. dapat dibayangkan jika musim hujan, maka sungai semangka akan meluap dan mengenangi pemukiman dan persawahan yang tidak jauh dari sungai semangka. Bila sungai sudah meluap/banjir dapat dipastikan masyarakat di Suoh tidak dapat keluar dari Suoh karena transportasi Getek ( rakit bambu) tidak dapat berfungsi. Jalan alternatif untuk ke luar dari Suoh harus melalui Letusan  Suoh, Banding Agung ke arah Wonosobo - Tanggamus  atau  melintasi bukit dan pegunungan  kearah Sekincau - Lampung Barat. Namun jika musim penghujan jalan menuju Sekincau sangat sulit sebab licin dan lengket. Upaya penduduk setempat bila mengendarai kendaraan roda dua atau empat jenis jeep dengan memasang rante yang dililitkan di lingkaran ban kendaraan, supaya tidak licin dan dapat bergerak di tanah yang lengket dan berlumpur. 

Getek  sebagai sarana transportasi di Suoh menjadi salah satu sarana penting  yang  menghubungkan antara Pekon di  Kecamatan Bandar Negeri Suoh dan Kecamatan Suoh dengan jalan menuju Liwa sebagai pusat dari kabupaten di Lampung Barat. Kendaraan jenis roda empat - jeep  yang memuat beras dan keperluan lainnya dapat melintasi sungai semangka  jika  debit air berkurang. Bila debit air meluap, pengangkutan beras dan barang-banrang  lainnya melalui jalan letusan, walaupun jika hujan sangat sulit dan banyak kubangan yang dalam. Salah seorang pemilik getek, Usman, mengatakan dirinya mampu mendulang uang Rp50 ribu-Rp70 ribu perhari dalam sebagai upah menarik getek. Pasalnya, setiap hari kendaraan roda dua yang menyeberang menumpang getek miliknya rata-rata 30 unit kendaraan dan dikenai ongkos Rp2 ribu/unit.  Ongkos yang terbilang murah, dan sangat terjangkau bagi masyarakat daerah pinggiran. Namun ongkos tersebut bila dibandingkan dengan tenaga dan waktu yang disediakan pemilik jasa getek, belum sebanding. Keiklasan dan ketulusan dalam semangat jiwa yang berbagi serta menolong itulah yang membuat pemilik jasa getek setia mengantar pulang - pergi siapapun yang menggunakan jasa getek. Jiwa yang mulia di tengah kesulitan masyarakat untuk dapat bisa keluar dan masuk Suoh dalam mengurus segala keperluan baik antar Pekon, Kecamatan dan kabupaten bahkan Propinsi.

Masih kata pak Usman, dengan menjadi penarik getek dirinya merasa cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Akan tetapi terkadang aktivitas tersebut terhenti ketika sungai tersebut banjir dan memaksa dirinya menunggu hingga debit air mengecil. Sebab ketika banjir datang penarikan getek terlalu berisiko, bahkan terkadang getek yang ditambat di tepi sungai pun terbawa arus sehingga Usman harus membuat getek kembali.  “Bukan sekali dua getek itu terbawa hanyut.”Pertanyaannya, haruskah penyeberangan tersebut menggunakan getek apakah tidak akan lebih baik jika pemerintah memikirkan pembuatan jembatan pada penyeberangan tersebut sehingga warga akan lebih nyaman ketika meyeberang.( dari berbagai sumber -  RD. Agust. Dharyanto).

Sabtu, 18 Mei 2013


Pengurangan Resiko Bencana.


Bencana adalah keadaan yang tidak dikehendaki oleh siapapun, namun siapa yang mampu menolak  jika bencana datang dan tak mampu kita hindarkan? Akibat bencana sangat beragam, bukan hanya rumah  menjadi rusak dan kehilangan harta benda lainnya, namun juga nyawa bisa menjadi taruhan bila bencana  datang dan tak dapat di cegah. Kisah pilu dan miris bukan hal baru atas akibat bencana, hal itu seringkali kita dengar dan lihat pasca-gempa. Belajar atas apa yang telah terjadi, Paroki St. Theodorus Liwa Lampung Barat berkerjasama dengan Caritas Tanjungkarang menyelenggarakan pendampingan Pengurangan Resiko Bencana  (PRB) dimulai 1 Oktober 2012  -  30 September 2013. Caritas Tanjungkarang sebagai lembaga sosial kemanusiaan Gereja Katolik Keuskupan Tanjungkarang adalah salah satu divisi dari Yayasan Pembinaan Sosial Katolik (YPSK), yang menerima mandat sebagai pelaksana organisasi Caritas di Keuskupan atas dasar surat Keputusan Uskup Tanjungkarang nomor 174/JC/11/2009. Dalam menjalankan karya kemanusiaan, Caritas Tanjungkarang berkerjasama dengan pemerintah, lembaga donor, lembaga kemanusiaan lain, dan juga masyarakat. Dalam jejaring karya kemanusiaan, Caritas Caritaster gabung dalam konfederasi  Karitas Nasional ( KARINA)  di tingkat nasional dan konfederasi Caritas Internasionalis di tingkat dunia yang berpusat di Roma. Kegiatan utama Caritas adalah pelayanan sosial  lintas agama, suku, ras dan golongan dan tidak bertujuan untuk penyebaran agama. Pelayanan Caritas adalah murni sebagai ungkapan  kasih.  


Liwa sebagai wilayah yang terletak di sisi Barat pulau sumatera, di pegunungan bukit barisan yang berada dalam zona subduksi Australasia di samudera Indonesia, dan sesar aktif Semangko di daratan merupakan daerah yang rawan dengan bencana.  Peristiwa Gempa di Liwa pernah terjadi 25 Juni 1933 dengan kekuatan gempa 7,5 skala richter di lembah Suoh yang mengakibatkan letusan piroklastik. Akibat gempa tersebut muncul semburan gas beracun  besar dan memicu eksodus besar-besaran keluar dari Suoh. Mulai dekade 1960-an lembah Suoh mulai dihuni kembali dan mengalami dampak berat kembali ketika gempa Liwa yang berkekuatan 6,6 pada skala Richter,  pada  15 Februari 1994. Akibat dari gempa tersebut    kerusakan parah di Liwa Kabupaten Lampung Barat dengan gempa berpusat di Sesar Semangko, Samudera Hindia. Berdasarkan laporan hampir semua bangunan permanen di Liwa rata dengan tanah. Tak kurang dari 196 jiwa dari beberapa desa dan kecamatan di Lampung Barat tewas, sementara jumlah korban yang terluka hampir mencapai 2000 orang. Rata-rata mereka tewas dan terluka karena tertimpa reruntuhan bangunan. Berdasarkan informasi, jumlah penduduk yang kehilangan tempat tinggal hampir mencapai 75 ribu. Dampak gempa pun masih terasa sampai 40 kilometer dari ibu kota Kabupaten Lampung Barat tersebut. Pada tahun 2007 terjadi gempa 7,9 skala richter di Pesisir Barat , 10 orang meninggal, 30 luka berat, 24 luka ringan dan 26.369 bangunan rusak. Pesisir Barat selain berpotensi terjadi gempa, longsor  juga terjadi tsunami. Dan pada saat - saat tertentu, Liwa juga masih sering diguncang gempa meskipun dalam sekala yang kecil dan belum berisiko mengakibatkan kerusakan atau korban jiwa.


Melalui kerjasama dengan caritas Tanjungkarang,  Paroki St. Theodorus berharap semakin tercipta kesadaran yang tinggi warga masyarakat/komunitas PRB dalam menciptakan sistem tanggap bencana yang efektif. Pendampingan dalam proses PRB melalui pemberdayaan komunitas, yang dilatih secara khusus dengan menggunakan metode PRBOM/CMDRR di komunitas masing-masing. Metode tersebut diterapkan dalam pertemuan berkala komunitas, yang menghasilkan pemetaan resiko bencana, rencana aksi komunitas dan swakelola resiko bencana secara berkelanjutan. Selain itu pendampingan Caritas juga memfasilitasi komunitas untuk berpartisipasi  aktif dalam kancah jejaring kebencanaan  wilayah Lampung Barat. Dan Caritas juga memfasilitasi komunitas dengan sarana dan keahlian untuk terlibat dalam jejaring komunikasi radio kebencanaan yang saat ini telah dilakukan setiap hari dan setiap saat oleh Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI ) dan  Bapan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) se-propinsi Lampung.  ( Dari berbagai sumber  - RD. Agust. Dharyanto)







 

Jumat, 17 Mei 2013


KABUPATEN  LAMPUNG BARAT


Profil

Nama Resmi :Kabupaten Lampung Barat
Ibukota :Liwa
Provinsi :Lampung
Batas Wilayah:Utara: Provinsi Bengkulu dan Provinsi Sumatera Selatan Selatan: Samudera Hindia dan Selat SundaBarat: Samudera Hindia
Timur: Kabupaten Lampung Utara
Luas Wilayah:5.050,01 km²
Jumlah Penduduk:421.878 jiwa
Wilayah Administrasi:Kecamatan : 17, Kelurahan : 6, Desa : 248
Website:http://lampungbarat.go.id



(Permendagri No.66 Tahun 2011)

Sejarah

Kabupaten Lampug Barat adalah salah satu pemekaran dari Lampung utara, yag ber Ibukota di Liwa. Pemilihan Liwa sebagai ibu kota Kabupaten Lampung Barat memang tepat. Beberapa alasan memperkuat pernyataan ini adalah :

  1. tempatnya strategis karena berada di tengah-tengah wilayah Lampung Barat, sehingga untuk melakukan pengawasan terhadap seluruh daerah Lampung Barat oleh pemerintah kabupaten akan relatif efektif Liwa merupakan persimpangan lalu lintas jalan darat dari berbagai arah yaitu Sumatra Selatan, Bengkulu, dan Lampung sendiri Tentang asal-usul nama Liwa, menurut cerita orang, berasal dari kata-kata "meli iwa" (bahasa Lampung), artinya membeli ikan. Konon dahulunya Liwa merupakan daerah yang subur, persawahan yang luas, sehingga hasil pertaniannya melimpah. Liwa juga nama salah satu marga dari 84 marga di Lampung.


Skala Beghak, Asal Muasal.

Sekala Beghak (biasa ditulis Skala Brak), adalah kawasan yang sampai kini dapat disaksikan warisan peradabannya. Kawasan ini boleh dibilang kawasan yang “sudah hidup” sejak masa pra-sejarah. Batu-batu menhir mensitus dan tersebar di sejumlah titik di Lampung Barat. Bukti, ada tanda kehidupan menyejarah.


Sebuah batu prasasti di Bunuk Tenuar, Liwa berangka tahun 966 Saka atau tahun 1074 Masehi, menunjukkan ada jejak Hindu di kawasan tersebut. Bahkan di tengah rimba ditemukan bekas parit dan jalan Zaman Hindu. Ada lagi disebut-sebut bahwa Kenali yang dikenal sekarang sebagai ibukota Kecamatan Belunguh, adalah bekas kerajaan bernama “Kendali” dengan “Raja Sapalananlinda” sebagaimana disebut dalam “Kitab Tiongkok Kuno”. Kata “Sapalananlinda” oleh L.C. Westenenk ditafsir sebagai berasal dari kata “Sribaginda” dalam pengucapan dan telinga orang Cina. Jadi bukan nama orang tapi gelar penyebutan. Buku itu konon juga menyebut, bahwa Kendali itu berada di antara Jawa dan Siam-Kamboja. Kitab itu, menyebut angka tahun antara 454 – 464 Masehi. Kitab ini telah disalin ke dalam bahasa Inggris oleh Groenevelt (Wikipedia Indonesi, 2007).

Meski belum seluruhnya terbaca, namun dapat disimpulkan: di situ tercatat suatu peradaban panjang. Suatu kawasan tua yang mencatatkan diri dalam sejarah umat manusia. Di wilayah ini pula pernah berdiri sebuah kerajaan. Ada yang menyebut kerajaan tersebut adalah Kerajaan Tulang Bawang, namun bukti-bukti keberadaannya sulit ditemukan. Sedang keyakinan yang terus hidup dan dipertahankan masyarakat khususnya di Lampung Barat serta keturunan mereka yang tersebar hingga seluruh wilayah Sumatera Selatan, menyebutkan Kerajaan Skala Beghak. Pendapat ini juga disokong oleh keberadaan para raja yang bergelar Sai Batin, hingga bukti-bukti bangunan dan alat-alat kebesaran kerajaan, upacara dan seni tradisi yang masih terjaga. Masih banyak bukti lain, namun perlu pembahasan terpisah.


Kalau membaca peta Propinsi Lampung sekarang, kisaran lokasi pusat Sekala Beghak berada di hampir seluruh wilayah Kabupaten Lampung Barat, sebagian Kecamatan Banding Agung Kabupaten Ogan Komering Ulu, Propinsi Sumatera Selatan. “Pusat kerajaan” meliputi daerah pegunungan di lereng Gunung Pesagi di daerah Liwa, seputar Kecamatan Batu Brak, Kecamatan Sukau, Kecamatan Belalau dan Kecamatan Balik Bukit.

Sebagai kesatuan politik Kerajaan Sekala Beghak telah berakhir. Tetapi, sebagai kesatuan budaya (cultural based) keber¬adaannya turun temurun tewarisi melalui sejarah panjang yang menggurat kuat dan terbaca makna-maknanya hingga saat ini. Sekala Beghak dalam gelaran peta Tanah Lampung, pastilah tertoreh warna tegas, termasuk sebaran pengaruh kebudayaannya sampai saat ini.

Tata kehidupan berbasis adat tradisi Sekala Beghak juga masih dipertahankan dan dikembangkan. Terutama, Sekala Beghak setelah dalam pengaruh “Empat Umpu” penyebar agama Islam dan lahirnya masyarakat adat Sai Batin. Adat dan tradisi terus diacu dalam tata hidup keseharian masyarakat pendukungnya dan dapat menjadi salah satu sumber inspirasi dan motivasi pengembangan nilai budaya bangsa.

Hasil pembacaan atas segala yang ada dalam masyarakat berkebudayaan Sai Batin di Lampung, memperlihatkan kedudukan dan posisi penting Sekala Beghak sebagai satuan peradaban yang lengkap dan terwariskan. Keberadaan Sekala Beghak tampak sangat benderang dalam peta kebudayaan Sai Batin, sebagai satu tiang sangga utama pembangun masyarakat Lampung. Bahkan, telah diakui, Sekala Beghak sebagai cikal bakal atau asal muasal tertua leluhur “orang Lampung”. Bahkan keberadaan Skala Beghak, berada dalam kisaran waktu strategis perubahan peradaban besar di Nusantara, dari Hindu ke Islam.

Bukti kemashuran Sekala Beghak dirunut melalui penuturan lisan turun-temurun dalam wewarah, tambo, dan dalung yang mempertegas keberadaan Lampung dalam peta peradaban dan kebudayaan Nusantara. Kata Lampung itu sendiri banyak yang menyebut berasal dari kata “anjak lampung” atau “yang berasal dari ketinggian”. Pernyataan itu menunjukkan bahwa “orang Lampung” berasal dari lereng gunung (tempat yang tinggi), yang dalam hal ini Gunung Pesagi. Pendapat yang sama juga ditemukan dalam kronik perjalanan I Tsing. Disebutkan kisah pengelana dari Tiongkok, I Tsing (635-713). Seorang bhiksu yang berkelana dari Tiongkok (masa Dinasti Tang) ke India, dan kembali lagi ke Tiongkok. Ia tinggal di Kuil Xi Ming dan beberapa waktu pernah tingal di Chang’an. Ia menerjemahkan kitab agama Budha berbahasa Sanskerta ke dalam bahasa Cina. Dalam perjalanannya itu, kronik menulis I Tsing singgah di Sriwijaya pada tahun 671. Ia mengunjungi pusat-pusat studi agama Budha di Sumatera, di antaranya selama dua bulan di Jambi dan setelah itu konon tinggal selama 10 tahun di Sriwijaya (685-695). Dalam perjalanannya itu, I Tsing dikabarkan menyebut nama suatu tempat dengan “To Lang Pohwang”. Kata “To Lang Pohwang” merupakan bahasa Hokian, bahasa yang digunakan I Tsing.

Ada yang menerjemahkan “To Lang Pohwang” sebagai Tulang Bawang. Salah satunya adalah Prof. Hilman Hadikusuma, ahli hukum adat dan budayawan Lampung tersebut memberi uraian perihal sejarah Lampung, khususnya dalam menafsir To Lang Pohwang sebagai Kerajaan Tulang Bawang. Disebut-sebut berada di sekitar Menggala, ibukota Kabupaten Tulang Bawang saat ini. Meski bekas-bekas atau artefaknya belum terlacak, garis silsilah raja dan istana, komunitas masyarakat pewaris tradisi, dan banyak hal lagi yang masih tidak bisa ditemukan. Tidak hanya dari sudut pandang semantis untuk memaknai kata “To Lang Pohwang”, namun perlu pula didampingi kajian sosiologis dan arkeologis yang lebih mendalam.

Kata “To Lang Pohwang” berasal dari bahasa Hokian yang bermakna ‘orang atas’. Orang atas banyak diartikan, orang-orang yang berada atau tinggal di atas (lereng pegunungan, tempat yang tinggi). Dengan demikian penyebutan I Tsing “To Lang Pohwang” memiliki kesamaan makna dengan kata “anjak lampung”, sama-sama berarti orang yang berada atau tinggal di atas. Sedang atas yang dimaksud adalah Gunung Pesagi.


Merujuk pada dua pendapat itu, maka penunjukan “orang atas” mengarah pada Suku Tumi yang tinggal di lereng Gunung Pesagi di Lampung Barat. Mereka inilah cikal-bakal Kerajaan Sekala Beghak. Kerajaan ini di kemudian hari ditundukkan oleh para penakluk, mujahid dan pendakwah Islam yang masuk ke Sekala Beghak dari Samudera Pasai melalui Pagaruyung Sumatera Barat. Di bawah Ratu Mumelar Paksi bersama putranya Ratu Ngegalang Paksi, disertai juga para Umpu, empat cucu Ratu Mumelar Paski. Mereka masuk untuk kemudian menguasai kawasan tersebut setelah menundukkan Suku Tumi. Para Umpu, keempat putra Ratu Ngegalang Paksi itulah yang kemudian melahirkan Paksi Pak Sekala Beghak dengan segala kebudayaannya, berkembang dan beranak pinak untuk kemudian menyebar ke seluruh Lampung dan sejumlah daerah. Karena kerajaan Sekala Beghak lama (animisme/dinamisme) telah dikalahkan dan dikuasai sepenuhnya oleh keempat Umpu keturunan Ratu Ngegalang Paksi, maka kemudian adat-istiadat dan kebudayaan yang berkembang dan dipertahankan hingga kini merupakan peninggalan Kerajaan Sekala Beghak Islam.

Dalam tambo-tambo dan wewarah, “Empat Umpu” (Umpu Bejalan Diway; Umpu Belunguh; Umpu Nyekhupa, dan Umpu Pernong) banyak disebut memiliki peran sentral dalam membangun masyarakat adat Sai Batin, Paksi Pak Sekala Beghak. Pada periode selanjutnya, penyebaran orang-orang Sekala Beghak ini dapat dirunut dari kisah-kisah tentang kepergian mereka melalui sungai-sungai. Bahkan, sebagian orang-orang Komering pun mengaku sebagai keturunan Sekala Beghak. Mereka diperkirakan keturunan Pasukan Margasana yang dikirim Kerajaan Sekala Beghak ke Komering untuk menghadang serangan sisa-sia prajurit Kerajaan Sriwijaya yang telah runtuh sebelumnya. Seperti halnya keberadaan Suku Ranau sekarang, diakui juga berasal dari Sekala Beghak, Lampung Barat. Di sekitar Danau Ranau di Banding Agung, Ogan Komering Ulu itu semula dihuni Suku Abung yang setelah kedatangan orang-orang Sekala Beghak pada abad ke-15 mereka pindah ke Lampung Tengah.

Seperti dikutip Harian KOMPAS, (11 Desember 2006:36), pada abad 15 datang empat kelompok masyarakat yang menduduki sekitar Danau Ranau. Di sebelah barat danau dihuni orang-orang yang datang dari Pagaruyung Sumatera Barat dipimpin Dipati Alam Padang. Sementara itu, tiga kelompok lainnya berasal dari Sekala Beghak. Tiga kelompok orang-orang Sekala Beghak itu dipimpin Raja Singa Jukhu (dari Kepaksian Bejalan Diway), menempati sisi timur danau. Di sisi timur danau pula, kelompok yang dipimpin Pangeran Liang Batu dan Pahlawan Sawangan (berasal dari Kepaksian Nyekhupa) menempat. Sementara kelompok yang dipimpin Umpu Sijadi Helau menempati sisi utara danau. Empu Sijadi Helau yang disebut-sebut itu bukan Umpu Jadi putra Ratu Buay Pernong, yang menjadi pewaris tahta Buay Pernong. Kemungkinan besar Umpu Sijadi di daerah Ranau tersebut adalah keturunan Kepaksian Pernong yang meninggalkan Kepaksian dan mendirikan negeri baru di Tenumbang kemudian menjadi Marga Tenumbang.

Ketiga kelompok dari Sekala Beghak ini kemudian berbaur dan menempati kawasan Banding Agung, Pematang Ribu, dan Warkuk. Sampai sekarang banyak orang Banding Agung mengaku keturunan Paksi Pak Sekala Beghak. Di samping itu, ada kisah-kisah perpindahan orang Sekala Beghak, sebagaimana ditulis dalam Wikipedia (7/3/07: 04.02), yang dipimpin Pangeran Tongkok Podang, Puyan Rakian, Puyang Nayan Sakti, Puyang Naga Berisang, Ratu Pikulun Siba, Adipati Raja Ngandum dan sebagainya. Bahkan, daerah Cikoneng di Banten ada daerah yang diberikan kepada Umpu Junjungan Sakti dari Kepaksian Belunguh atas jasa-jasanya, dan banyak orang Sekala Beghak yang migrasi ke sana atau sebaliknya.

Kisah-kisah ini memperkuat suatu kenyataan bahwa Sekala Beghak tidak hanya sebagai sumber muasal secara geografis, melainkan juga sumber kultur masyarakat. Sekala Beghak adalah hulu suatu kebudayaan masyarakat. Dari Sekala Beghak ini juga lahir huruf Lampung yaitu Kaganga. Bagi sebuah kebudayaan, memiliki bahasa dan aksara sendiri merupakan bukti kebesaran masa lalu kebudayaan tersebut. Di Indonesia hanya sedikit kebudayaan yang memiliki aksara sendiri, yaitu Batak, Lampung (Sumatera Selatan), Jawa, Sunda, Bali, dan Bugis. Dan kebudayaan yang memiliki aksara sendiri dapat dikategorikan sebagai kebudayaan unggul. Karena bahasa merupakan alat komunikasi sekaligus simbol kemajuan peradaban.

Semua aksara Nusantara tersebut berasal dari bahasa Palava, yang berinduk pada bahasa Brahmi di India. Bahasa Palava digunakan di India dan Asia Tenggara. Di Nusantara bahasa ini mengalami penyebaran dan pengembangan, bermula dari bahasa Kawi, sebagai induk bahasa Nusantara. Dari bahasa Kawi menjadi bahasa : Jawa (Hanacaraka), Bali, Surat Batak, Lampung/Sumatera Selatan (Kaganga), dan Bugis.

Dari Kerajaan Sekala Beghak yang telah memiliki unsur-unsur “kebudayaan lengkap” ini pulalah “ideologi” Sai Batin dilahirkan dan disebarluaskan. Sampai saat ini, masih banyak yang bisa dibaca dari jejak-jejak yang tertinggal. Baik dari jejak fisik maupun jejak yang tidak kasat mata. Dari legenda, seni budaya, adat tata cara, bahasa lisan tulisan, artefak benda peninggalan, hingga falsafah hidup masih ada runut rujukannya. Dari Sekala Beghak itu di kemudian hari pengaruh budaya dan peradabannya berkembang dan berpengaruh luas ke seluruh Lampung bahkan sampai ke Komering di Sumatera Selatan sekarang. Tidak terhitung kemudian “pendukung budaya”-nya yang tersebar di seluruh Indonesia pada masa kini.


Arti Logo


INDONESIAN:
Perisai bersudut 5 (lima)
Menggambarkan bahwa masyrakat  Lampung Barat sanggup mempertahankan cita-cita bangsa Indonesia dan melanjutkan pembangunan serta memajukan daerah berdasarkan Pancasila.

Siger

(Topi Adat Khas Lampung Barat)
Menggambarkan masyarakat yang mempunyai    4 (empat ) PAKSI atau BUAY ( Kelompok Adat), yaitu Buay Perenong, Buay Belunguh, Buay Jalang Diway dan Buay Nyerupa.

Pita berbentuk pintu gerbang bertuliskan    “ Lampung Barat” dalam aksara Lampung Berwarna putih, menggambarkan masyarakat asli adalah masyarakat Lampung yang siap menerima kedatangan masyarakat pendatang dan bekerjasama dalam membangun daerah.

Jumlah biji kopi 24 buah, dengan daun 9 lember serta biji padi 91 butir, menggambarkan peresmian kabupaten lampung barat pada tanggal 24 september 1991

Bambu buntu beruas 5 ( lima)
, menggambarkan kabupaten lampung barat merupakan daerah tingkat II yang ke-Lima keberadaannya di Provinsi Lampung.


Perisai kecil yang didalamnya terdapat pegunungan, daun dan air, menggambarkan bahwa wilayah lampung barat merupakan dataran tinggi yang terdiri dari hutan lindung dan pertanian.

Air dengan 6 (enam) Alur, melambangkan bagian barat merupakan daerah pantai samudra Hindia dan disahkan sebagai kabupaten berdasarkan UU no 6/1991, juga melambangkan enam tatanan adat masyarakat asli.

Keris dan tombak, melambangkan senjata asli masyarakat yang dipergunakan untuk membela diri dari berbagai ancaman.

Catatan: 

Kabupaten Lampung Barat telah dimekarkan menjadi  satu kabupaten baru dengan nama Kabupaten Pesisir Barat, dengan ibukota pemerintahan Krui, yang disahkan pada tanggal 25 Oktober 2012. Kabupaten Pesisir Barat terdiri dari 10 kecamatan yang meliputi : Bengkunat belimbing, Bengkunat, Ngambur, Pesisir Selatan, Krui Selatan, Pesisir Tengah,Way Krui, Karya Penggawa, Pesisir Utara, dan Lemong. Luas Kabupaten Pesisir Barat 2.346,07 km2, populasi penduduk 163.321 jiwa dan kepadatan penduduk 69,61 jiwa/km2. Batas wilayah : Utara Propinsi Bengkulu, Selatan Kabupaten Tanggamus, Barat Samudera Hindia dan Timur Kabupaten Lampung Barat. Di Kabupaten Pesisir Barat terkenal dengan ombak Samudera Hindia yang bagus untuk pecinta surfing. Dalam menunjang pembangungan dan percepatan pertumbuhan Kabupaten Pesisir Barat juga telah dilengkapi dengan Bandara Udara di Seray Krui. 

(Sumber ©  PUSDATINKOMTEL 2010.  Jl. Medan Merdeka Utara No. 7, Jakarta Pusat Telp. (021) 3450038, Fax (021) 3851193, 34830261,3846430
e-mail: pusdatinkomtel@depdagri.go.id)

Kamis, 16 Mei 2013

Letusan Suoh.

Kekayaan alam Indonesia memang unik dan luar biasa, jika kita pernah membaca atau berkesempatan melihat alam Indonesia di berbagai daerah, kita akan menemukan kekhasan yang sangat menakjubkan. Tanpa terkecuali jika kita pernah berkunjung ke Lampung Barat, rasanya tidak akan sempurna bila tidak berkesempatan mengunjungi Letusan Suoh. Letusan Suoh terletak diantara  Kecamatan Bandar Negeri Suoh dan kecamatan Suoh. Kondisi kedua Kecamatan tersebut   memang terisolir dengan transportasi yang sangat sulit untuk mencapai daerah tersebut. Apalagi jika musim hujan sudah dapat dibayangkan bagaimana kondisi jalan yang dilalui.  Untuk mencapai lokasi menggunakan kendaraan roda dua sebagai satu-satunya sarana transportasi paling memungkinkan untuk dipergunakan, karena kendaraan roda empat dapat dipastikan tidak dapat melalui medan yang sangat sulit menuju daerah yang berjarak sekitar 40 Km dari Liwa Ibukota Lampung Barat.
Menuju Suoh dapat melalui Sukabumi-Suoh (Kecamatan Batu Brak) dengan kondisi jalan onderlagh namun  relatif sudah lebih baik dan lancar. Bila  melalui Sekincau pada  musim hujan  kondisi jalan berlumpur dan licin serta terjadi kerusakan yang parah pada beberapa titik akibat erosi dan tidak terawat.  Fakta dan kondisi yang ada itu, cukup untuk menggambarkan terisolasinya daerah tersebut dari daerah lain di Lampung Barat.  Belum lagi jika akan melintas Way Semaka tidak seperti umumnya menyeberangi sungai melalui jembatan, disini penyeberangan menggunakan rakit yang disebut dengan getek.  Jasa yang harus dibayar jika menggunakan transportasi getek  Rp 2.000/kendaraan roda dua saat menyeberangi sungai yang menghubungkan Pekon Gunung Ratu-Sukajadi Suoh dengan lebar sungai  125 meter.  Namun bila musim hujan , air akan meluap, maka  membutuhkan waktu 3-4 jam menunggu sampai air menjadi surut baru dapat menyeberang.


Perjalanan menuju Suoh memang  membutuhkan keberanian dan nyali yang memadai, selain medan jalan yang sulit, terlebih di musim hujan, licin dan penuh lumpur, juga harus melintasi puluhan kilometer kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dalam sunyi dan hening, selain suara serangga atau jenis hewan hutan.  Dapat dibayangkan jika hujan mulai turun tentu akan kesulitan untuk berteduh karena jauh dari perumahan penduduk. Dan yang lebih memprihatinkan lagi jika terjadi kerusakan pada kendaraan, tentu harus menuntun atau menunggu pertolongan orang lain bila ada yang kebetulan melintasi. Memeriksa kendaraan secara rutin menjadi bagian penting jika hendak menuju ke Suoh. Selain itu perlu disiapkan rante untuk dililitkan pada ban kendaraan saat musim hujan, agar ban kendaraan tidak licin dan dapat bergerak ke depan. Rasa lelah akan terbayar saat melintasi Letusan Suoh, selain pemandangan yang indah, juga karena terdapat tiga kawasan danau yang penuh pesona. Nama danau - danau tersebut adalah Danau Lebar, Danau Asam dan Danau Minyak. Kawasan danau Suoh ini memiliki luas area 100 hektar. Temperatur udara rata-rata di kawasan ini sekitar 29°C s.d. 33°C.

Di kawasan Letusan Suoh  pengunjung harus berhati hati  sebab sebagian besar tanah tidak ditumbuhi oleh ilalang, dan ini berarti panas bumi hampir mencapai permukaan tanah, dan jika kita injak maka berisiko terprosok ke dalam karena tanah menjadi lembut yang disebabkan panas bumi. Dari bukit yang terletak di tengah antara danau asam dan minyak, kita dapat melihat kepulan asap warna putih yang merupakan pusat panas bumi dalam bentuk letupan lumpur yang bergerak seperti mendidih. Daerah ini di kenal dengan nama keramikan. Pengunjung kawasan ini harus sangat hati hati agar tidak salah menginjakkan kaki yang ternyata kawah atau sumber panas bumi. Di sepanjang jalan menuju keramikan terdapat banyak pepohonan yang menjadi tempat bergelantungan kalong (kelelawar besar), maka daerah ini dinamakan oleh penduduk setempat Rawa Kalong. 

Rencana pemanfaatan potensi panas bumi Suoh-Sekincau di Lampung Barat oleh PT Chevron dipastikan dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) sampai ratusan miliar rupiah. Perusahaan asal Amerika Serikat (AS) ini akan memenuhi target Pemerintah Pusat dan daerah untuk merealisasikan proyek sumber daya panas bumi yang diperkirakan mampu menghasilkan daya 500 mw. Sementara masih menunggu realisasi pemanfatan potensi panas bumi Suoh, Pemerintah sudah mulai berbenah dengan memperbaiki infrastruktur jalan. di beberapa titik yang selama ini mengalami kerusakan parah, seperti Pasiran telah berubah wujud menjadi jalan beton yang menjadikan semua kendaraan lancar saat melintas. Jauh berbeda dengan sebelum tahun 2012, pasiran menjadi jalan yang mengerikan dan momok yang menakutkan, khususnya jika musim hujan tiba. Semoga dengan perbaikan dan pembangunan insfrastruktur jalan yang semakin memadai, pertumbuhan ekonomi dan hidup di segala bidang masyarakat kecamatan Suoh dan Bandar negeri Suoh semakin bertumbuh mencapai sejahtera dan makmur. terbuka akses komunikasi dengan dunia luar, khususnya dengan pemerintahan di pusat Kabupaten Lampung Barat. ( Dari berbagai informasi - RD. Agust. Dharyanto).    

Selasa, 14 Mei 2013

Mei dan Oktober sebagai bulan Maria

Secara tradisi, Gereja Katolik mendedikasikan bulan- bulan tertentu untuk devosi tertentu. Bulan Mei yang sering dikaitkan dengan permulaan kehidupan, karena pada bulan Mei di negara- negara empat musim mengalami musim semi atau musim kembang. Maka bulan ini dihubungkan dengan Bunda Maria, yang menjadi Hawa yang Baru. Hawa sendiri artinya adalah ibu dari semua yang hidup, “mother of all the living” (Kej 3:20). Devosi mengkhususkan bulan Mei sebagai bulan Maria diperkenalkan sejak akhir abad ke 13. Namun praktek ini baru menjadi populer di kalangan para Jesuit di Roma pada sekitar tahun 1700-an, dan baru kemudian menyebar ke seluruh Gereja.
Pada tahun 1809, Paus Pius VII ditangkap oleh para serdadu Napoleon, dan dipenjara. Di dalam penjara, Paus memohon dukungan doa Bunda Maria, agar ia dapat dibebaskan dari penjara. Paus berjanji bahwa jika ia dibebaskan, maka ia akan mendedikasikan perayaan untuk menghormati Bunda Maria. Lima tahun kemudian, pada tanggal 24 Mei, Bapa Paus dibebaskan, dan ia dapat kembali ke Roma. Tahun berikutnya ia mengumumkan hari perayaan Bunda Maria, Penolong umat Kristen. Demikianlah devosi kepada Bunda Maria semakin dikenal, dan Ketika Paus Pius IX mengumumkan dogma “Immaculate Conception/ Bunda Maria yang dikandung tidak bernoda” pada tahun 1854, devosi bulan Mei sebagai bulan Maria telah dikenal oleh Gereja universal.
Paus Paulus VI dalam surat ensikliknya, the Month of Mary mengatakan, “Bulan Mei adalah bulan di mana devosi umat beriman didedikasikan kepada Bunda Maria yang terberkati,” dan bulan Mei adalah kesempatan untuk “penghormatan iman dan kasih yang diberikan oleh umat Katolik di setiap bagian dunia kepada Sang Ratu Surga. Sepanjang bulan ini, umat Kristen, baik di gereja maupun secara pribadi di rumah, mempersembahkan penghormatan dan doa dengan penuh kasih kepada Maria dari hati mereka. Pada bulan ini, rahmat Tuhan turun atas kita … dalam kelimpahan.” (Paus Paulus VI, the Month of May, 1)
Sedangkan penentuan bulan Oktober sebagai bulan Rosario, berkaitan dengan pertempuran di Lepanto pada tahun 1571, di mana negara- negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman yang menyerang agama Kristen, dan terdapat ancaman genting saat itu, bahwa agama Kristen akan terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Don Juan (John) dari Austria, komandan armada Katolik, berdoa rosario memohon pertolongan Bunda Maria. Demikian jugaa, umat Katolik di seluruh Eropa berdoa rosario untuk memohon bantuan Bunda Maria di dalam keadaan yang mendesak ini. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore. Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto. Walaupun nampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober. Kemudian, Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario dalam Misa di Vatikan setiap tanggal 7 Oktober. Kemudian penerusnya, Paus Gregorius XIII, menetapkan tanggal 7 Oktober itu sebagai Hari Raya Rosario Suci.
Demikianlah sekilas mengenai mengapa bulan Mei dan Oktober dikhususkan sebagai bulan Maria. Bunda Maria memang terbukti telah menyertai Gereja dan mendoakan kita semua, para murid Kristus, yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus menjadi anak- anaknya (lih. Yoh 19:26-27). Bunda Maria turut mengambil bagian dalam karya keselamatan Kristus Putera-Nya, dan bekerjasama dengan-Nya untuk melindungi Gereja-Nya sampai akhir jaman.( sumber :  Katolisitas org)
Ditulis oleh: Stefanus Tay & Ingrid Tay
Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.